Ngawi – Pembangunan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh aspek ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga oleh kekuatan nilai spiritual, moral, dan ketahanan keluarga. Dalam kehidupan modern saat ini, tantangan yang dihadapi keluarga semakin kompleks, mulai dari rendahnya literasi keagamaan, kurangnya waktu interaksi dalam keluarga, hingga pengaruh negatif perkembangan digital terhadap anak. Dalam konteks ini, peran ibu sebagai pendidik utama dalam keluarga menjadi sangat strategis dalam membentuk karakter generasi. Menurut Badan Pusat Statistik, kualitas ketahanan keluarga sangat dipengaruhi oleh pola pengasuhan dan interaksi dalam rumah tangga. Sementara itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menekankan bahwa penguatan peran ibu dalam keluarga menjadi kunci dalam menciptakan generasi yang berkarakter dan berakhlak. Namun, pada kenyataannya masih banyak ibu rumah tangga yang belum memiliki ruang edukasi spiritual dan sosial yang memadai.

Berangkat dari kondisi tersebut, lahirlah inovasi GARDU SUJI (Gerakan dari Ibu-Ibu Suka Mengaji) sebagai gerakan sosial berbasis komunitas yang bertujuan meningkatkan pemahaman agama, memperkuat karakter anak, serta memberdayakan peran ibu dalam kehidupan sosial. Gerakan ini dibangun dengan pendekatan partisipatif dan semangat gotong royong, sehingga mampu menciptakan ruang belajar yang terbuka, santai, namun tetap edukatif bagi para ibu. Pelaksanaan program GARDU SUJI dilakukan melalui berbagai kegiatan terintegrasi, seperti pengajian rutin untuk memperdalam pemahaman keislaman, kelas parenting Islami untuk membekali ibu dalam mendidik anak, serta pembentukan Rumah Qur’an mini sebagai sarana belajar Al-Qur’an bersama antara ibu dan anak. Selain itu, kegiatan sosial seperti sedekah Jumat, kunjungan kepada warga yang sakit, serta pelatihan keterampilan rumah tangga juga menjadi bagian penting dari program ini. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pemberdayaan masyarakat berbasis keluarga yang didorong oleh United Nations Children’s Fund, yang menekankan pentingnya peran keluarga dalam pembentukan karakter anak.
GARDU SUJI tidak hanya berfokus pada peningkatan aspek spiritual, tetapi juga memberikan dampak sosial yang signifikan. Melalui kegiatan rutin, terbentuk komunitas ibu-ibu yang aktif, cerdas, dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Mereka tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan dalam keluarga dan masyarakat. Dengan meningkatnya peran ibu dalam pendidikan anak, proses pembinaan karakter menjadi lebih optimal, sehingga berkontribusi pada penurunan kenakalan remaja dan perilaku menyimpang di lingkungan sekitar. Selain itu, program ini juga berdampak pada meningkatnya ketahanan keluarga dan keharmonisan rumah tangga. Kegiatan keagamaan yang dilakukan secara rutin mampu memperkuat nilai spiritual serta meningkatkan kualitas komunikasi antara anggota keluarga. Hal ini sejalan dengan pandangan World Health Organization yang menyebutkan bahwa kesehatan mental dan sosial dalam keluarga sangat dipengaruhi oleh hubungan interpersonal yang harmonis dan dukungan emosional yang kuat.
Dalam implementasinya, GARDU SUJI dikembangkan melalui beberapa tahapan, mulai dari identifikasi kebutuhan masyarakat, perumusan konsep kegiatan, pelaksanaan program awal, hingga pengembangan dan replikasi ke tingkat dusun atau RT. Model ini menunjukkan bahwa inovasi berbasis masyarakat tidak harus bergantung pada anggaran besar, tetapi dapat tumbuh dari inisiatif warga yang memiliki kepedulian dan semangat kebersamaan. Secara keseluruhan, GARDU SUJI merupakan inovasi sederhana namun memiliki dampak luas dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Program ini tidak hanya memperkuat spiritualitas individu, tetapi juga membangun budaya religius, mempererat hubungan sosial, serta menciptakan keluarga yang lebih tangguh dan harmonis. Dengan konsep yang mudah diterapkan dan berbasis komunitas, GARDU SUJI berpotensi menjadi model inovasi yang dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai upaya memperkuat ketahanan keluarga dan pembangunan karakter generasi.