Ngawi – Pembangunan sumber daya manusia tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi dan kesehatan, tetapi juga mencakup penguatan nilai-nilai spiritual dan sosial dalam masyarakat. Dalam konteks tersebut, peran masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai pusat pembinaan keimanan dan penguatan karakter masyarakat lintas usia. Namun demikian, keterlibatan kelompok ibu dan lansia dalam kegiatan keagamaan yang terstruktur masih belum optimal di beberapa wilayah, sehingga diperlukan inovasi yang mampu menghadirkan ruang pembelajaran yang inklusif, ramah, dan berkelanjutan. Sebagai bentuk inovasi sosial berbasis keagamaan, Desa Pangkur, Kabupaten Ngawi, menghadirkan program GEMA TABEBUYA (Gerakan Mengaji dan Tahfidz bersama Ibu dan Lansia) yang berpusat di Masjid Al Fajar. Program ini dirancang sebagai wadah pembinaan spiritual yang tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mempererat hubungan sosial antaranggota masyarakat, khususnya ibu dan lansia.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara rutin setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu dengan sistem pembelajaran yang disesuaikan berdasarkan kemampuan masing-masing peserta. Pendekatan ini memungkinkan setiap individu memperoleh pembelajaran yang sesuai, sehingga tercipta suasana yang inklusif, menghargai proses, dan mendorong kepercayaan diri peserta. Dalam prosesnya, para peserta dibimbing oleh ustazah yang tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping spiritual yang memberikan pemahaman terhadap makna ayat-ayat Al-Qur’an.
Kebaruan dari inovasi GEMA TABEBUYA terletak pada pendekatannya yang inklusif dan berbasis komunitas, dengan menjadikan kelompok ibu dan lansia sebagai subjek utama pembelajaran. Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga menciptakan ruang aman dan nyaman bagi peserta untuk belajar tanpa batasan usia. Selain itu, masjid dioptimalkan sebagai pusat aktivitas sosial-keagamaan yang aktif, ramah, dan berkelanjutan, sehingga mampu menghidupkan fungsi masjid secara lebih luas dalam kehidupan masyarakat. Dari sisi implementasi, program ini menunjukkan dampak yang positif terhadap peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan keagamaan. Kehadiran peserta yang rutin mengikuti kegiatan mencerminkan tumbuhnya kesadaran dan semangat belajar sepanjang hayat. Selain itu, interaksi yang terjalin dalam kegiatan ini turut memperkuat ukhuwah Islamiyah dan membangun komunitas yang saling mendukung dalam proses pembelajaran.
Manfaat yang dihasilkan dari inovasi ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga sosial. Dari aspek spiritual, peserta mengalami peningkatan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an serta memperoleh ketenangan batin. Dari aspek sosial, kegiatan ini mempererat hubungan antarindividu, khususnya di kalangan ibu dan lansia, sehingga tercipta lingkungan masyarakat yang harmonis dan religius. Selain itu, program ini juga berkontribusi dalam menghidupkan masjid sebagai pusat kegiatan yang produktif dan bermakna. Secara keseluruhan, GEMA TABEBUYA merupakan inovasi yang menunjukkan bahwa pembangunan masyarakat dapat dilakukan melalui pendekatan spiritual yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan iman dan pemberdayaan masyarakat lintas usia, program ini tidak hanya memperkuat nilai-nilai keagamaan, tetapi juga membangun solidaritas sosial yang kokoh. Ke depan, inovasi ini memiliki potensi untuk direplikasi sebagai model pemberdayaan masyarakat berbasis masjid di berbagai daerah.