Ngawi – Pembangunan sumber daya manusia tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi dan pendidikan, tetapi juga mencakup kesadaran terhadap lingkungan hidup sebagai bagian penting dari keberlanjutan kehidupan. Dalam konteks global, perubahan iklim menjadi isu yang semakin mendesak. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change menyebutkan bahwa suhu rata-rata bumi telah meningkat sekitar 1,1°C dibandingkan era pra-industri, yang berdampak pada meningkatnya frekuensi bencana alam, penurunan kualitas air, serta kerusakan ekosistem. Di sisi lain, permasalahan sampah juga menjadi tantangan serius. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan lebih dari 60 juta ton sampah setiap tahun, dengan sekitar 17% di antaranya merupakan sampah plastik. Ironisnya, sebagian besar sampah tersebut masih belum terkelola dengan baik dan seringkali dibakar atau dibuang sembarangan sehingga mencemari tanah dan air. Kondisi ini juga dirasakan di tingkat daerah, termasuk di Kabupaten Ngawi yang masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Berangkat dari permasalahan tersebut, Perpustakaan Desa CERDAS di Desa Paras menghadirkan inovasi PEPES IKAN (Perpustakaan Peduli Situasi Iklim dan Dampak Lingkungan) sebagai bagian dari program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat melalui edukasi dan praktik langsung dalam pengelolaan lingkungan.

Pelaksanaan program dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan Komunitas Wanita Creative Paras, PKK, serta kader posyandu sebagai mitra strategis yang dekat dengan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan meliputi pelatihan daur ulang sampah plastik menjadi bunga hias menggunakan teknik setrika serta pemanfaatan gelas plastik bekas menjadi produk fungsional. Upaya ini sejalan dengan konsep reduce dan reuse dalam pengelolaan sampah yang dianjurkan oleh United Nations Environment Programme sebagai langkah efektif mengurangi pencemaran lingkungan. Selain itu, masyarakat juga diberikan pelatihan pembuatan produk ramah lingkungan seperti ecoprint tanpa bahan kimia, deterjen cair ramah lingkungan, serta sabun cuci piring berbahan nabati. Penggunaan produk ramah lingkungan ini menjadi penting mengingat World Health Organization menyatakan bahwa paparan bahan kimia berbahaya dalam rumah tangga dapat berdampak pada kesehatan manusia dan kualitas lingkungan dalam jangka panjang. Inovasi ini juga mendorong pengelolaan limbah rumah tangga secara kreatif, seperti pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi. Berdasarkan kajian World Bank, pendekatan ekonomi sirkular seperti ini dapat mengurangi volume limbah sekaligus memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat. Selain itu, program “Petani Organik Cilik (Bumi Ceria)” menjadi langkah edukasi sejak dini dalam membangun kesadaran lingkungan pada generasi muda. Melalui program PEPES IKAN, perubahan kecil yang dimulai dari individu dalam rumah tangga diharapkan mampu membentuk kebiasaan baru yang lebih peduli terhadap lingkungan. Kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah menjadi sangat penting, mengingat data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga menunjukkan bahwa sekitar 40% sampah di Indonesia berasal dari aktivitas rumah tangga. Oleh karena itu, perubahan perilaku di tingkat keluarga memiliki dampak signifikan terhadap pengurangan pencemaran lingkungan. Secara keseluruhan, inovasi PEPES IKAN menunjukkan bahwa perpustakaan desa dapat berperan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya berfokus pada literasi, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial dan lingkungan. Dengan pendekatan kolaboratif, berbasis data, dan berkelanjutan, inovasi ini diharapkan mampu menjadi model yang dapat direplikasi di daerah lain dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pengelolaan lingkungan.