Ngawi – Rendahnya minat baca masih menjadi salah satu tantangan dalam dunia pendidikan, baik pada level nasional maupun daerah. Permasalahan ini tidak hanya terlihat dari rendahnya tingkat literasi masyarakat secara umum, tetapi juga dari kurangnya budaya membaca yang belum terbentuk secara konsisten serta masih terbatasnya program literasi yang terstruktur dan berkelanjutan. Pada lingkup yang lebih spesifik, kondisi ini juga terjadi di SMP Negeri 1 Gerih, di mana peserta didik belum terbiasa membaca buku secara rutin, belum adanya sistem pelaporan kegiatan literasi yang sistematis, serta masih kurangnya inovasi pembelajaran berbasis literasi di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, diperlukan suatu inovasi yang tidak hanya mendorong kebiasaan membaca, tetapi juga mampu menciptakan sistem literasi yang terarah, menyenangkan, dan berkelanjutan.

Salah satu bentuk inovasi tersebut adalah GEMBIRA (Gerakan Edukasi Membaca Buku Intensif Rutin Aktif), yaitu program literasi yang dirancang untuk membiasakan siswa membaca secara rutin, terarah, dan menyenangkan. Program ini menjadi langkah konkret dalam menjawab isu strategis berupa rendahnya budaya literasi serta belum optimalnya program literasi sekolah yang mampu memberikan dampak nyata terhadap pengembangan karakter dan keterampilan abad ke-21. Dilansir dari SMPN 1 Gerih melalui artikel berjudul “GEMBIRA (Gerakan Edukasi Membaca Buku Intensif Rutin Aktif)”, program ini bertujuan untuk membiasakan peserta didik membaca secara rutin, mendorong lahirnya generasi yang kritis dan kreatif, serta menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah. Dalam pelaksanaannya, GEMBIRA dijalankan melalui konsep One Week One Book, di mana setiap siswa membaca satu buku setiap minggu sesuai minat dan tingkatannya. Sumber bacaan dapat berasal dari perpustakaan sekolah maupun koleksi digital. Kegiatan ini dilanjutkan dengan pembuatan resume atau refleksi yang dituliskan secara singkat melalui media seperti Google Form atau jurnal literasi yang telah disediakan. Selain itu, hasil bacaan juga dapat dikembangkan menjadi karya kreatif dan dipresentasikan, bahkan dipublikasikan atau diikutsertakan dalam kegiatan seperti lomba Bulan Bahasa. Guru berperan sebagai pendamping dan motivator, sementara keterlibatan orang tua turut didorong untuk mendukung keberlangsungan program ini.
Kebaruan dari inovasi GEMBIRA terletak pada pendekatannya yang terstruktur, konsisten, serta terintegrasi dengan pemanfaatan teknologi sederhana. Berbeda dengan kegiatan literasi sebelumnya yang cenderung tidak terarah, GEMBIRA menghadirkan sistem pembiasaan membaca yang jelas dengan target rutin, disertai mekanisme pelaporan dan evaluasi yang berkelanjutan. Selain itu, inovasi ini tidak hanya menekankan pada aktivitas membaca, tetapi juga mengubah paradigma literasi menjadi kegiatan yang aktif, kreatif, dan komunikatif. Integrasi teknologi seperti Google Form, platform digital, dan media publikasi turut menjadi nilai tambah dalam mendukung efektivitas program. Implementasi GEMBIRA menunjukkan perubahan yang signifikan dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Sebelum adanya program ini, minat baca siswa relatif rendah, kegiatan membaca belum terprogram secara rutin, serta partisipasi guru dan orang tua dalam pendampingan masih terbatas. Namun setelah inovasi diterapkan, siswa mulai terbiasa membaca minimal satu buku setiap minggu, tersedia sistem pelaporan yang terstruktur, serta hasil bacaan dapat dikembangkan menjadi karya yang lebih bermakna. Budaya literasi pun mulai tumbuh sebagai aktivitas harian yang menyenangkan, didukung oleh kolaborasi antara siswa, guru, dan orang tua. Dari sisi manfaat, GEMBIRA memberikan dampak positif yang luas. Bagi siswa, program ini mampu membentuk kebiasaan membaca yang konsisten, meningkatkan kemampuan literasi, komunikasi, serta kreativitas. Bagi guru dan sekolah, program ini mendorong terciptanya budaya literasi yang berkelanjutan serta meningkatkan citra sekolah sebagai institusi yang berkomitmen pada penguatan karakter dan kompetensi siswa. Sementara itu, bagi daerah, inovasi ini berkontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia serta mendukung peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui sektor pendidikan.
Secara keseluruhan, GEMBIRA merupakan inovasi sederhana namun berdampak besar dalam meningkatkan budaya literasi di sekolah. Dengan pendekatan yang sistematis, adaptif terhadap teknologi, serta melibatkan berbagai pihak dalam ekosistem pendidikan, program ini tidak hanya berhasil menumbuhkan minat baca, tetapi juga membentuk generasi pelajar yang literat, kritis, dan berkarakter. Ke depan, GEMBIRA memiliki potensi untuk direplikasi secara lebih luas sebagai model inovasi pendidikan berbasis literasi di tingkat daerah maupun nasional. Rendahnya minat baca masih menjadi salah satu tantangan dalam dunia pendidikan, sehingga diperlukan upaya inovatif untuk menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Salah satu bentuk inovasi tersebut adalah GEMBIRA (Gerakan Edukasi Membaca Buku Intensif Rutin Aktif), yaitu program literasi yang dirancang untuk membiasakan siswa membaca secara rutin, terarah, dan menyenangkan. Program ini menjadi salah satu langkah konkret dalam membentuk generasi yang literat, kritis, dan gemar belajar sepanjang hayat