Ngawi – Sumber daya manusia (SDM) merupakan aset penting dalam pembangunan desa yang berkelanjutan. Kualitas SDM yang baik tidak hanya ditentukan oleh tingkat pendidikan, tetapi juga oleh kondisi kesehatan sejak usia dini. Salah satu permasalahan serius yang memengaruhi kualitas SDM adalah stunting, yaitu kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Stunting tidak hanya berdampak pada tinggi badan, tetapi juga berpengaruh terhadap perkembangan kognitif dan produktivitas di masa depan. Menurut World Health Organization, stunting menjadi salah satu masalah gizi utama di dunia yang berdampak jangka panjang terhadap kualitas hidup anak. Di Indonesia, permasalahan ini masih menjadi perhatian serius. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi stunting nasional masih berada di atas batas yang ditetapkan oleh WHO, sehingga diperlukan upaya kolaboratif dari berbagai pihak untuk menurunkannya. Kondisi tersebut juga terjadi di Desa Waruktengah, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi. Berdasarkan data Puskesmas, angka stunting di desa ini pada tahun 2022 mencapai 13% pada bulan Februari dan meningkat menjadi 13,7% pada bulan Agustus. Pada tahun 2023 sempat mengalami penurunan menjadi 11,7% pada bulan Februari, namun kembali meningkat menjadi 13,5% pada bulan Agustus. Fluktuasi ini menunjukkan bahwa permasalahan stunting masih menjadi tantangan yang perlu ditangani secara berkelanjutan.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi tersebut, para pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Bina Remaja menghadirkan inovasi RATU CETING (Karang Taruna Cegah Stunting). Inovasi ini merupakan gerakan berbasis komunitas yang melibatkan peran aktif generasi muda dalam upaya pencegahan dan penurunan stunting. Program ini berfokus pada pemberian asupan gizi tambahan berupa ikan lele kepada ibu hamil dan balita sebagai sumber protein hewani yang mudah diperoleh dan diolah. Ikan lele dipilih karena memiliki kandungan protein yang tinggi serta nutrisi penting yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan anak. Menurut kajian dari Food and Agriculture Organization, protein hewani memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak serta mencegah kekurangan gizi kronis. Dengan memanfaatkan hasil kolam pemancingan yang dikelola oleh Karang Taruna, program ini tidak hanya berkelanjutan tetapi juga berbasis potensi lokal. Pelaksanaan RATU CETING dilakukan dengan menyalurkan ikan lele secara rutin kepada sasaran utama, yaitu ibu hamil dan balita berisiko stunting. Selain itu, kegiatan ini juga diiringi dengan edukasi tentang pentingnya pemenuhan gizi seimbang serta pola makan sehat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penanganan stunting tidak hanya berfokus pada bantuan pangan, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Program ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan asupan gizi bagi kelompok rentan. Dengan terpenuhinya kebutuhan protein hewani, risiko kekurangan gizi pada balita dan bayi yang akan lahir dapat ditekan. Selain itu, keterlibatan pemuda dalam program ini juga memberikan dampak sosial positif, yaitu meningkatnya kepedulian generasi muda terhadap permasalahan kesehatan di lingkungan sekitarnya. Secara keseluruhan, inovasi RATU CETING menjadi contoh nyata bagaimana peran pemuda dapat berkontribusi dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Melalui pendekatan sederhana namun tepat sasaran, program ini mampu mendukung upaya percepatan penurunan stunting di tingkat desa. Dengan keberlanjutan program dan dukungan berbagai pihak, RATU CETING berpotensi menjadi model inovasi yang dapat direplikasi di daerah lain dalam upaya menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.